Arca pada foto kedua menggambarkan Buddha Shakyamuni, yaitu Siddhartha Gautama, pendiri agama Buddha yang mencapai pencerahan sempurna di bawah Pohon Bodhi di Bodh Gaya, India. Sosok Buddha Shakyamuni merupakan figur paling penting dalam tradisi Buddhis karena beliau dipandang sebagai guru yang menemukan jalan menuju terbebasnya manusia dari penderitaan. Arca seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai media penghormatan, sarana meditasi, dan pengingat akan ajaran Buddha mengenai kebijaksanaan, kasih sayang, serta jalan menuju nirwana.
Dilihat secara keseluruhan, arca ini memperlihatkan sosok Buddha yang duduk tenang di atas lapik berbentuk bunga teratai. Komposisi tubuhnya simetris sehingga memberikan kesan stabil, kokoh, dan penuh kewibawaan. Tidak terdapat gerakan yang berlebihan ataupun ekspresi dramatis. Sebaliknya, seluruh bagian arca memancarkan ketenangan batin yang menjadi salah satu ciri utama penggambaran Buddha dalam seni rupa Buddhis. Keseimbangan bentuk tubuh, posisi tangan, dan ekspresi wajah menunjukkan bahwa pemahat berusaha menampilkan sosok yang telah mencapai kesempurnaan spiritual.
Wajah Buddha berbentuk oval dengan proporsi yang sangat harmonis. Dahi terlihat lebar sebagai lambang kebijaksanaan, sementara alis melengkung lembut mengikuti bentuk mata yang setengah terpejam. Mata yang tidak terbuka sepenuhnya merupakan simbol meditasi mendalam. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Buddha tetap menyadari keadaan di sekitarnya tanpa terikat oleh berbagai keinginan duniawi. Tatapan yang mengarah sedikit ke bawah mencerminkan perhatian terhadap semua makhluk sekaligus ketenangan batin yang tidak tergoyahkan.
Hidung dipahat lurus dan proporsional, sedangkan bibir membentuk senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Senyum tersebut sering disebut sebagai **senyum kedamaian**, yaitu ekspresi yang menggambarkan kebahagiaan sejati setelah terbebas dari penderitaan dan nafsu duniawi. Tidak ada kesan tertawa ataupun sedih, melainkan ketenangan yang muncul dari kebijaksanaan sempurna.
Di bagian tengah dahi tampak sebuah tonjolan kecil yang dikenal sebagai **urna**. Dalam ikonografi Buddha, urna melambangkan kemampuan melihat kebenaran yang tidak dapat dipahami oleh manusia biasa. Simbol ini menunjukkan bahwa Buddha memiliki pandangan batin yang sempurna terhadap hakikat kehidupan.
Bagian kepala memperlihatkan rambut yang tersusun dalam bentuk ikal-ikal kecil yang teratur. Bentuk rambut seperti ini merupakan ciri khas arca Buddha di berbagai wilayah Asia. Di bagian paling atas kepala terdapat tonjolan yang disebut **ushnisha**, yaitu simbol berkembangnya kebijaksanaan tertinggi. Ushnisha bukan sekadar bentuk rambut, melainkan lambang pencapaian spiritual yang membedakan Buddha dari manusia biasa.
Telinga Buddha dibuat memanjang hingga mendekati bahu. Bentuk telinga panjang berasal dari kisah kehidupan Siddhartha Gautama ketika masih menjadi seorang pangeran yang mengenakan anting-anting emas berat. Setelah meninggalkan kehidupan istana, anting-anting tersebut dilepaskan, tetapi daun telinganya tetap memanjang. Dalam seni Buddhis, telinga panjang kemudian menjadi simbol bahwa Buddha telah meninggalkan kemewahan dunia demi mencari kebenaran. Selain itu, telinga panjang juga dimaknai sebagai kemampuan mendengarkan penderitaan seluruh makhluk hidup tanpa membeda-bedakan.
Berbeda dengan arca Dewi Tara yang dipenuhi perhiasan, Buddha Shakyamuni digambarkan mengenakan jubah sederhana. Hal ini sesuai dengan kehidupan beliau setelah menjadi seorang pertapa. Jubah tersebut menutupi sebagian tubuh dengan lipatan kain yang dipahat secara halus dan mengikuti bentuk badan. Kesederhanaan busana menjadi simbol pelepasan terhadap kekayaan, kedudukan, dan segala bentuk kemewahan duniawi.
Pada arca ini, jubah menutupi bahu kiri dan sebagian tubuh bagian bawah, sementara bahu kanan tampak terbuka. Model pemakaian jubah seperti ini merupakan salah satu bentuk yang umum ditemukan dalam seni Buddha awal. Lipatan kain yang sederhana tetapi rapi memperlihatkan kemampuan pemahat dalam menciptakan kesan realistis tanpa mengurangi nilai simbolisnya.
Posisi duduk Buddha adalah **vajrasana** atau posisi meditasi bersila penuh. Kedua kaki disilangkan secara simetris sehingga membentuk dasar yang stabil. Posisi ini melambangkan keseimbangan, keteguhan hati, serta konsentrasi penuh dalam mencapai pencerahan. Dalam praktik meditasi Buddha, posisi duduk yang stabil dipercaya membantu menjaga keseimbangan antara tubuh dan pikiran.
Tangan kiri diletakkan di atas pangkuan dengan telapak menghadap ke atas. Posisi tersebut dikenal sebagai **Dhyana Mudra**, yaitu sikap tangan yang melambangkan meditasi, pemusatan pikiran, dan ketenangan batin. Mudra ini mengingatkan bahwa pencerahan hanya dapat dicapai melalui latihan batin yang tekun dan disiplin.
Sementara itu, tangan kanan diangkat di depan dada dengan jari-jari membentuk isyarat tertentu. Berdasarkan bentuknya, mudra ini menyerupai **Vitarka Mudra**, yaitu sikap tangan yang melambangkan penyampaian ajaran dan kebijaksanaan. Vitarka Mudra menggambarkan Buddha sebagai guru yang membimbing umat manusia menuju jalan pembebasan melalui penjelasan Dharma atau ajaran kebenaran.
Kombinasi kedua mudra tersebut memiliki makna yang sangat mendalam. Tangan kiri menunjukkan bahwa kebijaksanaan diperoleh melalui meditasi, sedangkan tangan kanan melambangkan bahwa kebijaksanaan tersebut kemudian dibagikan kepada semua makhluk. Dengan demikian, arca ini menggambarkan Buddha tidak hanya sebagai pribadi yang tercerahkan, tetapi juga sebagai guru agung yang mengajarkan jalan menuju kebahagiaan sejati.
Lapik tempat Buddha duduk berbentuk bunga teratai yang sedang mekar. Kelopak-kelopak teratai dipahat mengelilingi bagian dasar arca dengan ukuran yang seragam. Teratai merupakan simbol yang sangat penting dalam agama Buddha karena mampu tumbuh dari lumpur namun menghasilkan bunga yang bersih dan indah. Simbol ini mengajarkan bahwa manusia, meskipun hidup di dunia yang penuh penderitaan dan godaan, tetap dapat mencapai kesucian melalui latihan moral, meditasi, dan kebijaksanaan.
Permukaan arca menunjukkan warna cokelat tua kehitaman dengan kilau logam yang masih terlihat pada beberapa bagian, terutama wajah, dada, dan tangan. Di beberapa tempat tampak perubahan warna menjadi kehijauan akibat proses oksidasi alami yang berlangsung selama waktu yang sangat lama. Lapisan patina tersebut merupakan tanda usia arca sekaligus menjadi bukti bahwa benda ini telah mengalami proses alamiah selama berabad-abad.
Beberapa bagian permukaan juga memperlihatkan bekas aus akibat sentuhan ataupun proses pemujaan yang dilakukan secara terus-menerus. Dalam banyak tradisi Buddhis, umat sering menyentuh kaki atau tangan arca Buddha sebagai bentuk penghormatan. Kebiasaan tersebut menyebabkan bagian tertentu menjadi lebih halus dibandingkan area lainnya.
Secara artistik, arca ini memperlihatkan keseimbangan antara kesederhanaan dan kehalusan teknik pahat. Tidak banyak ornamen dekoratif, tetapi setiap garis tubuh dibuat dengan proporsi yang tepat. Pendekatan seperti ini merupakan ciri khas seni Buddha yang lebih menekankan penyampaian nilai spiritual dibandingkan kemewahan visual.
Jika dibandingkan dengan arca Dewi Tara, perbedaan keduanya sangat jelas. Dewi Tara digambarkan sebagai Bodhisattwa yang masih mengenakan mahkota, perhiasan, dan busana mewah sebagai lambang kasih sayang yang aktif menolong makhluk hidup. Sebaliknya, Buddha Shakyamuni tampil sederhana tanpa perhiasan sebagai simbol bahwa beliau telah sepenuhnya meninggalkan keterikatan terhadap dunia. Perbedaan ini bukan menunjukkan tingkat kesucian yang berbeda, melainkan mencerminkan peran masing-masing dalam ajaran Buddha.
Dari segi sejarah, arca Buddha seperti ini memiliki nilai yang sangat penting karena menunjukkan perkembangan seni pahat logam pada masa kerajaan-kerajaan Buddha di Asia. Proses pembuatannya kemungkinan menggunakan teknik **cire perdue** atau *lost-wax casting*, yaitu metode pengecoran logam dengan cetakan lilin yang memungkinkan terbentuknya detail halus pada wajah, tangan, dan lipatan pakaian. Teknik tersebut membutuhkan ketelitian tinggi serta keahlian yang hanya dimiliki oleh para perajin berpengalaman.
Selain sebagai benda seni, arca Buddha Shakyamuni juga memiliki fungsi religius. Di dalam vihara maupun candi, arca ditempatkan sebagai pusat penghormatan dan meditasi. Kehadiran arca bukan dimaksudkan untuk disembah sebagai dewa, melainkan sebagai pengingat terhadap sifat-sifat luhur Buddha yang patut diteladani, seperti kebijaksanaan, kesabaran, kasih sayang, dan pengendalian diri. Secara keseluruhan, arca Buddha Shakyamuni pada foto ini merupakan representasi yang sangat baik mengenai sosok Sang Buddha setelah mencapai pencerahan. Wajah yang tenang, posisi meditasi yang kokoh, gerak tangan yang penuh makna, busana sederhana, serta lapik bunga teratai berpadu menjadi satu kesatuan yang mencerminkan inti ajaran Buddha. Keindahan arca ini tidak hanya terletak pada kualitas artistiknya, tetapi juga pada nilai filosofis dan spiritual yang dikandungnya. Oleh karena itu, arca Buddha Shakyamuni merupakan warisan budaya yang memiliki arti penting dalam sejarah seni, perkembangan agama Buddha, serta kehidupan spiritual masyarakat yang mewariskannya dari generasi ke generasi.

